Padang (24/6). DPD LDII Kota Padang menggelar Pengajian Haji dan Aghnia’ sebagai sarana meningkatkan pemahaman keagamaan sekaligus mempererat silaturahim para jamaah haji, calon jamaah haji, serta warga yang memiliki kemampuan ekonomi (aghnia). Kegiatan tersebut menghadirkan pemateri yang membahas makna ibadah haji, rasa syukur atas nikmat kemampuan yang diberikan Allah SWT, serta pentingnya menjaga kemabruran haji dalam kehidupan.
Dewan Penasihat DPW LDII Sumbar, H. Afrizal Yaman menjelaskan bahwa ibadah haji dan umrah merupakan nikmat sekaligus keutamaan yang tidak diberikan kepada semua orang. “Kita sama memahami kemampuan untuk berangkat ke Baitullah merupakan perpaduan antara kecukupan rezeki, kesehatan fisik, kesempatan waktu, serta izin dari Allah SWT, ujarnya dalam pengajian yang di gelar pada (16/6/2026) lalu.
Afrizal menuturkan bahwa banyak orang yang diberikan kelapangan rezeki, namun belum memiliki kesempatan atau kemampuan fisik untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Sebaliknya, ada pula yang memiliki kesehatan dan semangat yang kuat, tetapi belum memiliki bekal yang cukup untuk berangkat ke Tanah Suci. Karena itu, umat Islam perlu mensyukuri setiap kesempatan yang diberikan Allah SWT untuk menunaikan rukun Islam kelima tersebut.
“Haji merupakan kewajiban yang diperintahkan Allah SWT bagi mereka yang mampu. Mampu di sini bukan hanya dari sisi finansial, tetapi juga kemampuan fisik, keamanan perjalanan, dan kesempatan yang diberikan Allah SWT. Oleh karena itu, siapa pun yang telah memperoleh kesempatan berhaji hendaknya bersyukur dan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya,” ujar Afrizal.

Sementara itu ketua biro PKD LDII Sumbar H. Yulianto Nugroho, mengingatkan bahwa keberhasilan ibadah haji tidak hanya diukur dari selesainya rangkaian manasik dan ritual di Tanah Suci, tetapi juga dari perubahan perilaku setelah kembali ke tengah masyarakat. Menurutnya, kemabruran haji harus tercermin dalam peningkatan kualitas ibadah, akhlak, serta kepedulian sosial.
Ia menjelaskan bahwa salah satu ciri haji mabrur adalah semakin kuatnya ketakwaan kepada Allah SWT, semakin rajin beribadah, serta semakin berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Selain itu, jamaah haji yang mabrur akan menunjukkan sikap yang lebih santun dalam bertutur kata, mudah memaafkan, gemar membantu sesama, dan menjadi teladan yang baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
“Haji mabrur bukan sekadar memperoleh gelar haji, tetapi bagaimana sepulang dari Tanah Suci seseorang menjadi pribadi yang lebih baik. Akhlaknya semakin mulia, ibadahnya semakin tertib, kepeduliannya kepada sesama meningkat, serta mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya,” kata Yulianto.
Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan para ulama bahwa haji mabrur ditandai dengan perubahan positif yang berkelanjutan dalam kehidupan seorang muslim. “Kemabruran haji tercermin dari meningkatnya ketakwaan, kejujuran, kepedulian sosial, dan semangat menebarkan kemaslahatan,” tambahnya.
Melalui pengajian itu, LDII menekankan bahwa haji mabrur harus melahirkan kesalehan individu sekaligus kesalehan sosial, sehingga jamaah haji dapat menjadi pelopor kebaikan, perekat persaudaraan, serta penggerak pembangunan umat.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi motivasi bagi warga yang belum berkesempatan berhaji untuk terus meningkatkan keimanan, mempersiapkan kemampuan, dan berikhtiar agar suatu saat dapat memenuhi panggilan Allah SWT ke Baitullah. (Rohmat/Nisa)



