Jakarta (8/4). Di tengah ancaman krisis lingkungan dan ketimpangan sosial global, Kementerian Agama mengajak umat beragama untuk kembali pada nilai-nilai Alquran dan Hadis melalui pendekatan ekoteologi guna menjaga keseimbangan alam dan kehidupan manusia.
Melalui ekoteologi, para lembaga dan tokoh agama berbicara mengenai ekologi. “Selama hidup di dunia dan melihat dampak kerusakan seperti global warming dan climate change, maka kita perlu bicara,” ujar Muchlis. Karena itu menurutnya, bukan saatnya lagi mempersoalkan khilafiyah, sementara justru masih banyak masalah bangsa, keumatan, ketahanan energi, yang harus diselesaikan bersama.
“Jika dikaitkan dengan ketahanan pangan yang menjadi program prioritas LDII, seperti budidaya sorgum, itu luar biasa,” kata Muchlis. Kita harus bersiap dengan swasembada pangan karena lahan telah berkurang jauh, katanya. Ia menilai, program kerja LDII sudah sesuai dengan prioritas pemerintah terutama bidang keagamaan. “LDII lebih berfokus kontribusi pada layanan keagamaan yang berdampak,” kata dia.
Selama ini, Kemenag telah berkolaborasi dengan Kementan untuk saling bersinergi membahas lingkungan memakai bahasa agama. “Ketika disampaikan dengan bahasa agama, para tokoh agama, santri akan lebih mudah menyerap informasi,” ujar Muchlis.
Mengutip data PBB mengenai indeks Food Loss and Waste, menyebut bahwa setiap tahun sisa pangan yang terbuang sebanyak 1,3 M ton limbah. “Sisa yang terbuang hampir lima puluh persen berasal dari dapur dan meja makan kita,” kata Muchlis.
Bahkan selama Ramadan, kata Muchlis menambahkan, pangan yang terbuang justru meningkat. Karena itu, ia mengapresiasi sistem pembuangan sisa makanan yang dilakukan LDII di pondok pesantren dan sekolah. Muchlis juga menyebut, fakta lainnya ada sebanyak 673 juta orang yang menderita kelaparan padahal sumber daya alam melimpah. “Hal ini yang miris, karena kemiskinan bukan karena kekurangan sumber daya alam tapi keserakahan manusia,” kata dia.
Ia menegaskan, karena itu penting untuk menjaga kelestarian lingkungan, mengelola bumi sesuai peruntukannya dengan pendekatan agama. Karena itu di Munas X LDII 2026 ini Muchlis mendukung dan mengapresiasi acara tersebut. “Semoga lahir program unggulan yang berdampak pada masyarakat,” kata Muchlis.



